Senin, 24 September 2012

"Ilmuwan Cilik", Bocah SD Buat Alat Deteksi Bencana


detail beritaPameran kreativitas sains dalam 2012 Indonesian Science Festival jadi ajang unjuk gigi murid Sekolah Dasar di bidang ilmu pengetahuan.

Kecil-kecil, para "ilmuwan cilik" ibarat cabe rawit. Salah satunya Nabiel Irawan, siswa Kelas 5 SDI Al Azhar 13 Rawamangun. Ia memajang alat deteksi banjir dan gempa buatan kelompoknya.

Pendeteksi banjir bahkan ia demonstrasikan langsung di depan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, M Nuh yang menyaksikan dengan bangga. "Deteksi banjir ini memanfaatkan suatu sensor yang jika terkena air, alarm akan langsung berbunyi," kata Nabiel. Sensor yang ia buat berasal dari bahan yang memiliki pengantar aliran listrik.

Setelah itu, giliran alat pendeteksi gempa yang diuji coba. Dengan fasih Nabiel memaparkan kronologi gempa. "Gempa itu bertahap, ada yang kecil dan kemudian besar. Kadang kita tidak merasakan gempa yang kecil, tahunya yang besar. Alat ini memperingatkan bahwa gempa besar terjadi," ujarnya.

Sama seperti alat deteksi banjir buatannya, alat deteksi gempa ini juga menggunakan sensor bandul baterai yang dikaitkan dengan kawat. Kawat dihubungkan dengan alarm berbentuk jam. Begitu gempa, baterai akan bergoyang. Goyangan baterai kemudian memicu alarm berbunyi.

"Baterai dikaitkan kawat yang menyentuh sebuah kaleng kecil yang ada di dalam semacam botol dan dihubungkan dengan arus listrik terbuka tertutup," ujarnya.

Jika aliran listrik terbuka, maka alarm tidak berbunyi sementara aliran listrik yang tertutup akan menimbulkan bunyi alarm -- karena baterai bergoyang mengikuti getaran gempa.

Nabiel mengaku, ide alat deteksi gempa dan banjir berasal dari membaca buku, dan mengeksplorasi situs pengetahuan baik dalam maupun luar negeri.

"Jadi kan teknologi deteksi yang rumit, kita buat yang sederhana yang tidak mahal, agar semua bisa membeli deteksi ini," kata dia.

Zydoprima Ihsan, siswa kelas 4 SD Pembangunan Jaya, Bintaro juga tidak mau kalah dalam membuat alat prediksi banjir.

Konsepnya sama dengan milik Nabiel, menggunakan sensor yang dipicu air, namun kreasinya memiliki setting wilayah gunung gundul. Dalam media percobaannya, gunung gundul disiram air kemudian di kaki gunung air menggenang. Sensor yang terkena air, memicu bunyi alarm.

Ihsan masih punya alat andalan lain, bersama 6 temannya membuat menara BTS untuk mendeteksi gempa. Caranya yaitu di wilayah paling ujung menara tersebut, dipasang sebuah sensor. Dalam simulasinya, saat terjadi gempa, sensor di ujung menara bergoyang dan akhirnya memicu alarm berbunyi.

Saat ditanya darimana ide membuat alat-alat deteksi tersebut. Ihsan mengaku idenya berawal dari berita bencana dari televisi. "Idenya dari kita semua (satu kelompok), dibantu guru," kata bocah yang gemar bereksperimen itu.



sumber