Sabtu, 25 Agustus 2012

Al-Khawarizmi, Sang Bapak Matematika-ALjabar

 
 
Hm., kalo aku uda sebelumnya uda perna nyinggung nama Al Khawarizmi dalam Asal Mula Angka Nol ., maka kali ini aku akan bahas lebih spesifik mengenai sosok yang mendapat julukan sebagai Bapak Matematika (aljabar) ini., :) .
Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad Ibnu Musa Al Khawarizmi, lahir di Khawarizm (Kheva, sekarang Usbekistan) sekitar 780 M. Saat dewasa ia pindah ke Bagdad – Irak untuk menuntut ilmu pengetahuan. Pada masa itu kota Bagdad berada dalam masa cemerlang sebagai pusat ilmu pengetahuan.

Saat itu, Baghdad adalah kota yang luar biasa berharga bagi umat manusia. Sebab, tak hanya indah dan menyimpan kekayaan peradaban masa silam, Baghdad juga menjadi saksi tingginya kebudayaan dan semangat keilmuan yang membawa umat manusia ke era kemajuan sains dan filsafat. Puncaknya, terjadi pada saat khalifah kelima, yaitu Khalifah Harun ar-Rasyid, seorang khalifah Abbasiyah yang terkenal. hm..,kotanya pasti keren banget yaaa 
Harun Ar-Rasyid segera mendirikan Bait Al-Hikmah tak berapa lama setelah ia naik tahta. Bait Al-Hikmah adalah lembaga yang berfungsi sebagai pusat pendidikan tinggi. Dalam waktu dua abad, Bait al-Hikmah ternyata berhasil melahirkan banyak pemikir dan intelektual Islam. Diantaranya, ilmuwan seperti Al-Khwarizmi dan Al-Battani.

Penulis Kitab Aljabar (Matematika) Pertama

Beliau adalah seorang ilmuan jenius pada masa keemasan Baghdad, dan sangat besar sumbangsihnya terhadap ilmu aljabar dan aritmetika. Karyanya, Kitab Aljabr Wal Muqabalah (Pengutuhan Kembali dan Pembandingan) merupakan pertama kalinya istilah aljabar muncul dalam kontesk disiplin ilmu.
Nama aljabar diambil dari bukunya yang terkenal tersebut. Karangan itu sangat populer di negara-negara barat dan diterjemahkan dari bahasa Arab ke bahasa Latin dan Italia. Bahasan yang banyak dipelajari oleh ilmuwan barat dari karangan Al-Khawarizmi adalah tentang persamaan kuadrat.
Jasa Al-Khwarizmi dalam ilmu ukur sudut juga luar biasa. Tabel ilmu ukur sudutnya yang berhubungan dengan fungsi sinus dan garis singgung tangen telah membantu para ahli Eropa memahami lebih jauh tentang ilmu ini. Ia mengembangkan tabel rincian trigonometri yang memuat fungsi sinus, kosinus dan kotangen serta konsep diferensiasi.
Selain mengarang kitab diatas, ia juga menulis beberapa buku yang banyak diterjemahkan kedalam bahasa latin pada awal abad ke-12, oleh dua orang penerjemah terkemuka yaitu Adelard Bath dan Gerard Cremona. Risalah-risalah aritmetikanya, satu diantaranya berjudul Kitab Al-Jam’a wal-Tafriq bil Hisab al-Hindi (Menambah dan Mengurangi dalam Matematika Hindu), hanya dikenal dari terjemahan berbahasa latin. Buku-buku itu terus dipakai hingga abad ke-16 sebagai buku pegangan dasar oleh universitas2 di Eropa.
Kedua buku karya Al Khawarizmi tersebut banyak menguraikan tentang persamaan linier dan kuadrat, penghitungan integrasi dan persamaan dengan 800 contoh yang berbeda, tanda-tanda negatif yang sebelumnya belum dikenal oleh bangsa Arab. Dalam Al-Jama’ wa at-Tafriq, Al-Khwarizmi menjelaskan tentang seluk-beluk dari kegunaan angka-angka, termasuk angka nol dalam kehidupan sehari-hari. Karya tersebut juga diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. 

Penemu Algoritma

Dalam bidang aritmetika, Al-Khawarizmi menulis kitab Al-Jam wal Tafriq bi Hisab al-Hid (Book of Addition Substraction by the Methode Calculation). Edisi asli berbahasa Arab telah hilang, tapi versi lainnya ditemukan pada tahun 1857 di perpustakaan Universitas Cambridge. Karya Al-Khawarizmi itu dikenal sebagai buku pelajaran pertama yang ditulis dengan menggunakan sistem bilangan desimal. Meskipun masih bersifat dasar, ini merupakan titik awal penyeimbangan ilmu matematika dan sains.
Terminologi algoritma, mungkin bukan sesuatu yang asing bagi kita di Eropa, karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa Latin sebagai Alchwarizmi, Alkarismi, Algorithmi, Algorismi. Di literatur barat beliau lebih terkenal dengan sebutan Algorizm. Panggilan inilah yang kemudian dipakai untuk menyebut konsep algoritma yang ditemukannya.
Para pelajar Eropa mengaitkan Al-Khawarizmi ini dan New Arithmetic yang pada akhirnya menjadi basis notasi angka, dimana notasi penulisan angka Arab dikenal dengan Algorism atau Algoritma. Dalam sejarah ilmu pengetahuan, Al-Khwarizmi dikenal sebagai pengembang aritmetika dan geometri. Perhitungan logaritma yang dewasa ini digunakan secara luas di bidang komputer (sains & engineering), diketahui berasal dari hasil pemikirannya. hm.., kereeeen :) (ampe tercengang :D )

Orang Pertama yang Memperkenalkan Angka 0 (Nol)

Naah seperti yang aku bahas dalam Asal Mula Angka Nol .,beliau memang bukan penemu angka nol, tapi beliaulah orang pertama di dunia yang memperkenalkan angka nol sebagai suatu bilangan dalam ranah ilmu pengetahuan. :)
“Kosong”, atau nol, bukan sebarang angka, penemuannya merevolusikan pemikiran matematik dan sains moden. Angka nol ini sudah digunakan di dunia Arab-Islam pada kurun kesembilan. Angka nol baru diperkenalkan di Eropah pada awal abad ke-13, dibawa oleh pemikir Itali, Fibonacci, dalam tahun 1202 melalui karya popularnya Liber Abaci. Sifar adalah kata arab untuk angka nol. Perkataan sifar ini juga membentuk perkataan cipher dalam bahasa Inggeris yang membawa masud “tiada apa-apa”, ”simbol”,  atau “pesan rahasia”.
Sebelum dipopularkan Al-Khwarizmi, Ifrah menyebut, beberapa nomor kosong di tulisan-tulisan pada batu ditemui antaranya prasasti tembaga Sankheda di India pada 594, Trapaeng Prei di Kemboja (683), Kedukan Bukit, Sumatera (683), Kota Kapor, Sumatera (686), Dinaya, Jawa (793), Po Nagar, Vietnam (813) dan Bakul, Vietnam (829).
Di wilayah Indonesia angka nol ditemukan pada tiga perkataan pembilangan duaratus (200), sariwu tluratus sapulu dua (1312) dan dualaksa (20,000) pada prasasti Kedukan Bukit pada tahun 683, perkataan sapuluh dua (12) dan dua laksa (20,000) di prasasti Telaga Batu (Sumatera) pada 683.

Ahli Astronomi dan Geografi

Al-Khwarizmi juga dikenal sebagai ahli astronomi yang mendasarkan diri pada pemikiran Ptolemaeus, yaitu astronom Iskandariyah yang hidup di abad ke-2 (100-178 M). Sumbangan penting Al-Khwarizmi di bidang astronomi adalah pedoman penentuan garis lintang dan garis bujur untuk membuat peta yang lebih akurat dibandingkan dengan temuan Ptolemaeus.
Di bawah Khalifah Ma’mun, sebuah tim astronom yang dipimpinnya berhasil menentukan ukuran dan bentuk bundaran bumi. Penelitian ini dilakukan di Sanjar dan Palmyra. Hasilnya hanya selisih 2,877 kaki dari ukuran garis tengah bumi yang sebenarnya. Sebuah perhitungan luar biasa yang dapat dilakukan pada saat itu. Al-Khwarizmi juga menyusun buku tentang penghitungan waktu berdasarkan bayang-bayang matahari.
Hasil pemikiran Khwarizmi di bidang geografi juga sangat mengagumkan. Dia tidak hanya merevisi pandangan Ptolemeus dalam geografi tapi malah memperbaiki beberapa bagiannya. Tujuh puluh orang geografer pernah bekerja dibawah kepemimpina Al khwarizmi ketika membuat peta dunia pertama di tahun 830. Ia dikisahkan pernah pula menjalin kerjasama dengan Khalifah Mamun Al-Rashid ketika menjalankan proyek untuk mengetahui volume dan lingkar bumi.
Buku geografinya berjudul Kitab Surat-al-Ard (bentuk rupa bumi) yang memuat peta-peta dunia dan menjadi dasar geografi Arab. Karya tersebut masih tersimpan di Strassberg, Jerman. Bukunya tersebut telah diterjemahkan kedalam bahasa Inggris.

Penerjemah

Khalifah Al-Ma’mun sangat tertarik oleh Al-Khawarizmi, sehingga pada suatu saat sang khalifah memanggil Al-Khawarizmi dan terjadilah percakapan :
Khalifah : “Hai anak muda, kemarilah!”
Al-Khawarizmi : “Ada apa tuan?”
Khalifah : “Maukah engkau belajar bahasa Sansekerta?”
Al-Khawarizmi : “Tentu saja, Tuan,”
Pada masa itu, bahasa Sansekerta merupakan bahasa yang banyak diminati orang untuk dipelajari. Penyebabnya bahasa Sansekerta merupakan bahasa pengantar dari buku-buku ilmu pengetahuan India.
Dengan biaya dari sang khalifah, Al-Khawarizmi kemudian belajar bahasa Sanskerta hingga mahir. Setelah tiu, ia diberi tugas untuk menerjemahkan sebuah buku berbahasa Sansekerta yang berjudul Siddhanta. Buku yang membahas ilmu astronomi ini, diterjemahkan Al-Khawarizmi ke dalam bahasa Arab dengan sangat baik. Pada tahun 830 M, Al-Khawarizmi mendapat tugas lagi untuk menerjemahkan buku geografi karya Ptolomeus, seorang ilmuwan Yunani.

Dunia Berhutang Kepada Islam

Sebelum mengenal peradaban Islam, keadaan negeri-negeri Barat sungguh memprihatinkan. Dalam buku Sejarah Umum karya Lavis dan Rambon dijelaskan bahwa Inggris Anglo-Saxon pada abad ke-7 M hingga sesudah abad ke-10 M merupakan negeri yang tandus, terisolir, kumuh, dan liar. Tempat kediaman dan keamanan manusia tidak lebih baik daripada hewan. Eropa masih penuh dengan hutan2 belantara. Mereka tidak mengenal kebersihan. Kotoran hewan dan sampah dapur dibuang di depan rumah sehingga menyebarkan bau-bau busuk. Dan kota terbesar di Eropa penduduk-nya tidak lebih dari 25.000 orang. ya ampuuunnn 
Kondisi di atas jauh banget bedanya ama keadaan kota-kota besar Islam pada waktu yang sama. Seperti di kota Cordoba, ibukota Andalus di Spanyol. Cordoba dikelilingi taman-taman hijau. Penduduknya lebih dari satu juta jiwa. Terdapat 900 tempat pemandian, 283.000 rumah penduduk, 80.000 gedung-gedung, 600 masjid, 50 rumah sakit, dan 80 sekolah. Semua penduduknya terpelajar. Karena orang-orang miskin pun menuntut ilmu secara cuma-cuma.
Selain ketinggian peradaban Islam, para ilmuwan Muslim juga punya peran besar dalam memajukan ilmu pengetahuan dunia.

Wafat

Al-Khwarizmi meninggal pada tahun 262 H/846 M dalam usia 67 tahun, di Bagdad dan meninggalkan banyak karya besar yang bermanfaat bagi peradaban umat manusia, bahkan bukunya sampai sekarang tetap menjadi rujukan para ilmuwan modern. Pada tahun wafatnya Al-Khwarizmi (850 M), lahirlah Al-Battani, yang bernama lengkap Abu Abdallah Mohammad ibn Jabir ibn Sinan al-Raqqi al-Harrani al-Sabi al-Battani. Turut berduka buat Al-Khawarizmi 
Yaa begitulah kurang lebih biografi sang bapak matematika ini., kalo kurang puas bisa googling sana-sini., masih banyak fakta dibalik kehidupan Al-Khawarizmi lainnya., capek juga bikin artikel sgini panjangnya.,, but., keep sharing



sumber